Sangat penting bagi seorang laki-laki untuk mengerti kualitas dan
sifat-sifat seorang wanita sebelum dia dipertimbangkan sebagai seorang
istri.
Dilaporkan dalam Musnad Imam Ahmad, dari Sa’ad bin Abi Waqqas
Radliallahu Anhu, bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Tiga sebab kebahagiaan anak Adam dan tiga hal penyebab penderitaan.
Penyebab kebahagiaan anak Adam adalah : (1) Istri yang baik, (2) Rumah
yang bagus dan (3) Kendaraan yang bagus. Hal yang menyebabkan menderita :
Istri yang jelek, rumah yang buruk dan kendaraan yang buruk.”
Dilaporkan juga dalam Shahih al-Jaami’ bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Empat hal yang menyebabkan kebahagiaan: (1) Istri yang baik, (2)
Rumah yang bagus, (3) Tetangga yang baik, dan (4) Kendaraan yang bagus.
Empat hal yang menyebabkan menderita: Istri yang buruk, tetangga yang
buruk, kendaraan yang jelek dan rumah yang sempit/kecil.”
Sangat penting dan perlu atas seorang laki-laki untuk melihat seorang
wanita yang bisa menjadi istri yang baik dan ibu yang baik bagi
anak-anaknya (di masa depan). Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa
Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Dunia (hidup di dunia ini) adalah kesenangan dan sebaik-baik
kesenangan di dunia ini adalah istri yang baik (sholehah).” (Shahih
Muslim, Kitab 14, Bab 17, Hadits No. 1467)
Saat ini sangat sulit untuk menemukan istri yang baik karena dia
merupakan harta benda yang jarang ditemukan. Diriwayatkan dalam Sunan
Abu Dawud dari Ibnu ‘Abbas Radliallahu Anhu, bahwa Rasulullah Salallahu
Alaihi Wasallam ditanya oleh Umar bin al-Khattab Radliallahu Anhu:
“Akan aku informasikan kepadamu harta benda yang terbaik yang bisa
seseorang dapatkan, yaitu istri yang baik (shalehah). Ketika dia
(suaminya) melihatnya dia akan membuatnya senang dan ketika dia
diperintah maka akan patuh dan ketika dia ditinggal (jauh dari suami)
maka akan menjaga dirinya.”
Hadits ini merupakan pernyataan yang jelas bahwa istri yang baik
adalah orang (1) yang membuat senang dan bahagia hati suami ketika
suaminya melihatnya, (2) mematuhi suaminya ketika dia memerintah
mengerjakan sesuatu, dan (3) melindungi kehormatannya, rahasianya,
keluarga (anak-anak) dan hartanya ketika suami tidak ada di sisinya.
Diriwayatkan dalam Shohih al-Jaami’ bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Hati yang bersyukur, lisan yang mengingat Allah dan istri yang baik
(zaujah shalihah) yang akan menolong kamu dalam urusan hidupmu dan
agamamu, inilah harta benda terbaik yang dapat dimiliki manusia.”
Sangat penting bagi seorang wanita-orang yang akan menjadi istrimu dan
membantu kamu menegakkan dien (agama) memiliki sifat-sifat dan kualitas
tersebut sebelum kamu mempertimbangkan/memutuskan untuk menikahinya.
Allah meminta kita untuk menikah dengan orang yang baik, shalehah dan bertaqwa:
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin
Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nur: 32)
Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang sifat-sifat wanita jannah (surga):
“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka).” (QS An-Nisaa’: 34)
Shalihat artinya mereka adalah wanita yang baik agamanya. Qaanitaat
artinya mereka patuh terhadap suaminya. Dan Haafizaat lil-Ghaib artinya
mereka menjaga harta, kekayaan, anak-anak suaminya dan seterusnya
tatkala suaminya pergi.
Dilaporkan dalam Mu’jam ath-Thabraani al-Kabiir dan Shahih al-Jaami’,
dari Abdullah bin Salaam Radliallahu Anhu bahwa Rasulullah Salallahu
Alaihi Wasallam bersabda:
“Wanita yang terbaik adalah wanita yang menyenangkan kamu tatkala kamu
melihatnya, mematuhimu ketika kamu memerintahnya, menjaga dirinya
sendiri (kesuciannya) dan harta kamu dalam ketiadaan kamu.”
Wanita yang patuh (taat) kepada Allah, Rasul-Nya dan suaminya maka
tidak diragukan lagi dia layak mendapatkan jannah. Dilaporkan dalam
Musnad al-Imaam Ahmad bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam
bersabda :
“Jika seorang wanita menegakkan sholat 5 waktunya, berpuasa di bulan
Ramadhan, menjaga kesuciannya dan mematuhi suaminya, maka akan dikatakan
kepadanya (di hari pengadilan), masuklah ke dalam surga dari pintu yang
kamu sukai.”
Oleh karena itu, sifat-sifat dari wanita yang baik yang telah disebutkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan Rosul-Nya adalah:
* Shaalihat, mereka melaksanakan dien dan memiliki dien/agama yang baik
* Qaanitaat (mutii’aat), patuh kepada suaminya sepanjang dia tidak memerintahkan untuk tidak patuh kepada Allah.
* Menjaga diri mereka tatkala suaminya tidak ada
* Menjaga harta, kekayaan dan anak-anak suami
* Membahagiakan hati suami (yaitu dengan aktif untuk menyayangi dan bersosialisasi dengannya)
Dilaporkan bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda :
“Wanita (pada umumnya) dinikahi karena 4 hal : karena hartanya, karena
statusnya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Pilihlah wanita
yang baik agamanya, maka tanganmu akan dipenuhi dengan pasir-pasir
(kebaikan).” (Shahih Muslim, Hadist No. 1466)
Taribat Yadaak (maka tanganmu akan dipenuhi dengan pasir) artinya
bahwa jika seseorang memilih seorang wanita yang memiliki kebaikan dien
dalam pernikahan mereka maka tangan mereka akan dipenuhi kebaikan dan
mereka menjaga diri mereka dari sesuatu yang tidak menyenangkan hidup.
Jika seorang wanita memiliki agama yang baik, maka dia akan membawa
ketenangan di rumahnya dan akan menyebabkan kebahagiaan pada suaminya.
Dia akan menjadi lahan yaitu melahirkan anak-anak yang baik dan mereka
akan mewarisi sifat-sifatnya dan karakter-karakternya. Bagaimanapun,
jika dia menyimpang maka anak-anaknya akan mewarisi karakternya yang
buruk dan personalitasnya, pernikahan akan mengalami petaka kegagalan,
adapun suami akan gagal memenuhi apa yang diperintahkan Allah Subhaanahu
Wa Ta’ala yaitu untuk memilih wanita yang baik.
Wanita yang baik akan selalu menyesuaikan apa yang dia katakan dengan
lakukan, dia adalah penjaga harta suaminya, rahasianya, kehormatan dan
reputasinya. Reputasinya sebagai seorang wanita yang baik akan membawa
kehormatan kepada keluarga.
Tidak diragukan, kecantikan, karakternya, personalitas, ketaqwaan dan
agamanya melebihi kecantikan wajah dan fisiknya yang nampak. Hal
tersebut akan tinggal selamanya. Adapun kalau kecantikan wajah maka akan
berubah (yaitu kerena faktor usia) hanya dalam ukuran tahun.
Untuk wanita yang buruk akhlaqnya, kalau dia tua maka dia akan mencoba
meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih muda dan merasa seperti
wanita-wanita yang berumur belasan tahun. Dia tidak akan punya waktu
untuk membaca Al-Qur’an, mengurus anak-anak atau bahkan suaminya.
Sebaliknya dia akan berada di depan kaca, menggunakan make-up, dan
mencoba menyembunyikan keriput dan noda-noda di wajahnya.
Wanita yang baik, akan selalu ingat akan tanggung jawab terhadap
suaminya dan kewajibannya kepada Allah. Dia akan selalu mengingatkannya
untuk sholat, mendorongnya untuk berdakwah dan mendukung jihad serta
mengerjakan kewajiban-kewajibannya tanpa diminta. Jika suaminya baik
maka suaminya akan memenuhi kebutuhannya dan memperhatikannya, dia tidak
akan pernah melirik wanita lain karena istrinya tertambat di dalam
hatinya.
Abdullah bin Rawaahah Radliallahu Anhu memiliki seorang budak hitam.
Dia pernah memukulnya dan kemudian dia merasa bersalah karena telah
melakukannya. Dia kemudian pergi menemui Rasulullah Salallahu Alaihi
Wasallam dan mengatakan kepadanya apa yang terjadi. Nabi bertanya kepada
Abdullah tentang gambaran karakternya. Abdullah menginformasikan kepada
Nabi Salallahu Alaihi Wasallam bahwa dia (budak wanitanya) berpuasa,
sholat dan mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Nabi Salallahu
Alaihi Wasallam bertanya lagi, “Berarti dia adalah seorang yang
beriman.” Abdullah Radliallahu Anhu berkata, “Saya akan pergi untuk
membebaskannya dan menikahinya.”
Ada beberapa orang yang mulai mencela Abdullah karena menikahi seorang
budak wanita, karena mereka masih sering melirik orang-orang kafir
untuk mereka nikahi. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala kemudian menurunkan ayat
:
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada
wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah, 2:221)
Dilaporkan juga bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan wanita
berkulit hitam yang berada di bawah kekuasaan Hudaifah bin al-Yaman
Radliallahu Anhu. Hudaifah berkata kepada Khansaa’, budak wanitanya :
“Wahai Khansaa’, Allah telah berfirman tentang kamu. Oleh karena itu,
saya akan membebaskanmu, kemudian menikahimu.”
Dalam ayat ini subyek utamanya adalah agama yang baik. Kecantikan
tubuh atau wajah bersifat subyektif tiap orang. Beberapa orang menyukai
wanita dengan hidung yang mancung, yang lainnya menyukai wanita dengan
hidung yang pendek. Beberapa orang juga menyukai wanita yang bermata
lebar, adapun yang lain lebih tertarik pada wanita yang bermata sipit.
Beberapa laki-laki menyukai wanita yang besar, yang lainnya menyukai
yang langsing. Beberapa diantaranya menyukai wanita yang pendek, yang
lainnya suka yang tinggi. Jadi kecantikan itu tergantung mata yang
melihat. Apakah keumuman setiap laki-laki menyukai wanita yang baik
agamanya, personalitas dan karakternya? Atau lebih menyukai wanita yang
cantik di luar sana akan tetapi dia suka menyumpah, berteriak-teriak dan
memiliki karakter yang buruk?
Dilaporkan dalam Shohih Bukhori bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Tiga orang yang akan mendapatkan pahala ganda yaitu:
(1) Seseorang dari golongan ahlul kitab (Yahudi atau Nasrani) yang
beriman kepada nabinya (Isa atau Musa) kemudian beriman kepada Muhammad
Salallahu Alaihi Wasallam (yaitu masuk Islam).
(2) Seorang budak yang memenuhi kewajibannya kepada Allah dan juga kepada majikannya.
(3) Seorang majikan (pemilik budak) yang memiliki budak wanita
kemudian mengajarinya jalan yang terbaik (dien/agama), membebaskannya
kemudian menikahinya. Bagi dirinya (orang majikan tersebut) akan
mendapatkan 2 pahala.”
(Kitab Ilmu, Bab 31, Hadist No. 97).
Pasangan yang terbaik dalam hidup ini adalah wanita yang beriman
(muslim) dengan kebaikan agamanya maka ia akan dapat menolong suaminya
untuk menempuh kehidupan yang sesuai dengan Islam.
Istri yang baik adalah seperti Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu
Anhu, istri Nabi Salallahu Alaihi Wasallam, wanita yang mengimaninya
ketika orang-orang mengkufurinya; mempercayainya ketika orang-orang
tidak mempercayainya; menerima apa yang beliau katakan ketika
orang-orang mengingkarinya; melindunginya ketika beliau membutuhkannya;
menolongnya ketika orang-orang mencoba untuk mencelakakannya. Khadijah
mendampinginya dalam kehidupan yang susah maupun senang.
Wanita yang baik adalah seperti Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu
Anhu, wanita yang sangat bangga akan agamanya. Dia mengirimkan anak
laki-lakinya ke jalan surga dengan syahid, dan dia mendorongnya untuk
berdiri teguh di depan Thaghut sampai mati dengan kematian yang mulia.
Istri yang baik adalah seperti Shafiyyah binti Abdil Muthalib
Radhiyallahu Anhu, wanita yang sibuk ke medan perang untuk memerangi
Yahudi yang ingin menyerang kehormatan orang-orang yang beriman.
Istri yang baik adalah seperti Sahaabiyyah Khansaa’ Radhiyallahu Anhu,
wanita yang mengirim semua anak laki-lakinya yang berjumlah 4 untuk
pergi berjihad. Ketika datang berita bahwa keempat anak laki-lakinya
syahid, dia berkata: “Terima kasih ya Allah karena telah menjadikan
mereka semua syahid dan aku berdo’a agar aku dapat bertemu dengan mereka
di hari pengadilan nanti!”
Istri yang baik adalah Waluud yang artinya dia ingin memiliki anak.
Dia bukanlah seseorang yang mengatakan, “Aku ingin menjaga penampilanku
dan tidak ingin memiliki anak.” Istri yang baik adalah orang yang ingin
memiliki banyak anak.
Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Menikahlah dan perbanyaklah anak-anakmu, sesungguhnya aku akan
membanggakan kamu di hari pengadilan nanti.” (Shahih al-Jaami’, Hadist
No. 3366)
Jadi tujuan dari pernikahan bukan hanya untuk memperoleh kenikmatan akan tetapi juga untuk meneruskan ras manusia.
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi
Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi: 46)
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran: 14)
Ada banyak hal yang diingini oleh manusia-manusia: wanita, anak-anak,
emas, perak (harta), kuda dan seterusnya; akan tetapi apa yang Allah
berikan kepada kita di akhirat adalah jauh lebih baik.
Dalam Surat Maryam dikatakan bahwa Zakariyyah Alaihi Salam memohon kepada Allah:
“Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan
kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa
kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap
mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka
anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku
dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku,
seorang yang diridhai.” (QS Maryam: 4-6)